BeritaRakyat.Co,.Kendari – Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Konaweha terus menunjukkan komitmen nyata dalam melakukan pemulihan ekosistem pesisir di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (28/10/2026).
Melalui rangkaian program rehabilitasi berkelanjutan, BPDAS Konaweha berhasil menghijaukan kembali kawasan pesisir yang kritis, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Dimana diketahui, keberadaan hutan mangrove di Sulawesi Tenggara sangat vital secara ekonomi dan ekologi. Namun, kelestariannya menghadapi tantangan serius akibat tekanan aktivitas manusia dan alih fungsi lahan.
Berdasarkan data resmi dari Peta Mangrove Nasional yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, kawasan ini memiliki potensi habitat mangrove yang belum sepenuhnya optimal. Dari total luas luasan yang ada, diperkirakan masih terdapat sekitar 28.609,45 hektare potensi habitat mangrove yang memerlukan penanganan akibat adanya degradasi dan kerusakan di beberapa titik pesisir daerah.
Guna mengatasi kerusakan lahan pesisir tersebut, pemerintah dan berbagai pihak lintas sektor terus menggalakkan berbagai upaya terpadu. Salah satu langkah utamanya adalah kegiatan rehabilitasi mangrove secara intensif. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan mengembalikan benteng alami penahan abrasi, melainkan juga memulihkan biodiversitas laut dan menjaga neraca karbon daerah.
Menjawab tantangan tersebut, BPDAS Konaweha secara konsisten melaksanakan kegiatan Rehabilitasi Mangrove setiap tahunnya. Tercatat dalam rekam jejak satu dekade terakhir, BPDAS Konaweha telah berhasil melakukan penanaman mangrove seluas 1.783 Hektare selama tahun 2016 hingga 2026.
Pemulihan ekosistem ini bergerak secara masif melalui optimalisasi berbagai sumber pendanaan, baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun skema non-APBN, termasuk melalui kolaborasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) serta kemitraan pemegang persetujuan penggunaan kawasan hutan.
Salah satu bukti nyata keberhasilan program ini dapat dilihat di Desa Bonea, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna. Kawasan pesisir Desa Bonea yang dulunya sempat mengalami degradasi kini perlahan bertransformasi menjadi hutan mangrove yang rimbun dan sehat.
Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) BDPDAS Konaweeha, Wiyarta mengatakan keberhasilan kegiatan ini dicapai berkat pendekatan penanaman yang tepat serta pelibatan aktif kelompok masyarakat lokal. Mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga fase pemeliharaan tahunan guna memastikan tingkat kelulusan hidup tanaman yang tinggi.
“Keberhasilan rehabilitasi mangrove di Desa Bonea menjadi cerminan bahwa kolaborasi antara pemerintah, komitmen BPDAS Konaweha, dan partisipasi aktif masyarakat pesisir mampu membalikkan tren kerusakan hutan menjadi pemulihan lingkungan yang berkelanjutan,” kata Wiyarta melalui keteranganya yang diterima awak media ini.
Lebih lanjut Wiyarta mengungkapkan, BDPAS Konaweeha berkomitmen terus memperluas jangkauan rehabilitasi lahan, hutan maupun mangrove.
“BPDAS Konaweha akan terus memperluas jangkauan rehabilitasi pesisir demi mewujudkan lingkungan Sulawesi Tenggara yang lestari dan tangguh bencana,” tutupnya.
ODEK







