Pra UKW PWI Sultra–Sulteng, Tekankan Pentingnya Perencanaan Liputan dan Adaptasi Media Siber

Suasana Zoom pra UKW yang diikuti PWI Konawe Selatan Sultra dan PWI Sulteng. (SCREENSHOT)
Dengarkan Suara

BeritaRakyat.co, Konawe Selatan – Pra Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar PWI Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi ruang penguatan kapasitas jurnalis di tengah dinamika media yang semakin kompleks. Dalam kegiatan ini, Ketua Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB), Dr. Suprapto Sastro Atmojo, menekankan pentingnya perencanaan liputan serta penguasaan bahasa jurnalistik, khususnya dalam konteks media siber. Kamis (30/4/2026).

Kegiatan Pra UKW ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi wartawan, khususnya dalam menghadapi tantangan ekosistem media yang terus berkembang, sekaligus menjaga kualitas dan integritas jurnalisme di Indonesia.

Suprapto mengingatkan bahwa salah satu mata uji penting dalam UKW adalah kemampuan menyusun perencanaan liputan. Menurutnya, tahap ini bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama dalam menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, fokus, dan mendalam.

“Perencanaan liputan sangat krusial agar berita tidak kehilangan arah, memiliki sudut pandang yang jelas, serta didukung data yang memadai. Ini juga membantu efisiensi waktu dan energi, sekaligus meminimalisir risiko di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam era digital saat ini, jurnalis juga dituntut memahami teknik penulisan berita di media siber agar ramah terhadap mesin pencari (SEO), tanpa mengabaikan kaidah jurnalistik yang benar.

Dalam pemaparannya, Suprapto menyinggung pentingnya proses berpikir dalam kerja jurnalistik. Ia mengutip filsuf René Descartes dengan ungkapan “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir maka aku ada), sebagai dasar bahwa jurnalis harus selalu mengedepankan nalar kritis sebelum dan sesudah melakukan peliputan.

Sementara itu, perspektif lain disampaikan melalui konsep “pekerjaan kaki” yang diungkapkan budayawan Sindhunata. Ia menegaskan bahwa wartawan harus turun langsung ke lapangan untuk mendapatkan fakta. Namun, pekerjaan tersebut tidak berhenti di situ.

“Setelah kerja kaki, ada kerja otak. Data yang diperoleh tidak semuanya bisa dilaporkan. Wartawan harus mampu menganalisis, memilah informasi, dan mempertimbangkan aspek keindonesiaan serta kemanusiaan dalam setiap pemberitaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suprapto juga menekankan agar jurnalis tidak merasa terancam dengan kehadiran media sosial. Menurutnya, meskipun media sosial kini mengambil sebagian fungsi media, seperti promosi dan branding, namun tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran media mainstream.

“Media mainstream hadir secara kelembagaan, di bawah regulasi dan mewakili kepentingan publik. Sementara media sosial lebih bersifat personal. Produk jurnalistik harus tetap terkonfirmasi, memenuhi kaidah, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diingatkan kembali pada konsep nilai berita (news value) sebagai dasar dalam menentukan kelayakan sebuah peristiwa untuk diberitakan. Unsur-unsur seperti kebaruan (timeliness), kedekatan (proximity), konflik (conflict), ketokohan (prominence), dampak (magnitude), hingga sisi kemanusiaan (human interest) menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, keunikan (unusualness) dan isu yang sedang hangat (currency) juga menjadi faktor penting dalam menarik perhatian publik. Seluruh elemen ini, menurut Suprapto, harus dipahami secara komprehensif agar jurnalis mampu menghasilkan berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga relevan dan berdampak.

YAN