BeritaRakyat.Co,.Bombana – Ribuan hektar lahan persawahan masyarakat di Kabupaten Bombana mengalami kekeringan akibat cuaca panas ekstrim selama kuran waktu dua bulan belakangan ini.
Salah satu wilayah persawahan yang mengalami dampak kekeringan ekstrim yakni, Kelurahan Aneka Marga dan Desa Marga Jaya, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana.
Kades Marga Jaya, H. Suharto mengatakan, sekitar 1,700 hektar lahan perawan masyarakat yang telah ditanami oleh masyarkat saat ini. Diperkirakan lebih dari 40 persen sudah tidak bisa terselamatkan akibat tidak adanya air yang mengaliri lahan persawahan.
Kondisi ini lanjut dia, diperparah tidak adanya pasokan air yang mengaliri saluruah irigiri yang ada. Dan juga menurunya air sumur bor yang selama ini diandalkan oleh para petani diwilayah itu.
“Sawah disinikan masih tergolong sawah tadah hujan. Kalo musim panas begini kita hanya andakan sumur bor, itupun sudah tidak maksimal karena arinnya juga berkurang. Sekarang sudah banyak persawahan yang sudah tidak bisa terselamatkan, kalo 40 persen lebih sudah ada,” kata Suharto kepada awak media belum lama ini, Sabtu (15/08/2026).
Akibat kondisi kekeringan ini menurut dia, masyarkat dipastikan mengalami kerugian yang cukup besar. Untuk ia berharap pemerintah Kabupaten maupun Balai Wilayah Sungai IV Kendari bisa memberikan solusi.
“Harapan kami, pemerintah Kabupaten ataupun Balai bisa mencarikan solusi, memperhatikan masyarakat yang terdampak bencana kekeringan ini, ” harapnya.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Lurah Aneka Marga, Kecamatan Rarowatu Utara, Justang Busasa kata dia, berdasarkan data yang dimiliki, sedikitnya ada sebanyak 300 hektar lebih lokasi persawahan masyarakat yang mengalami kekeringan.
“Kita di Aneka Marga itu ada kurang lebih 345 hektar yang kekeringan saat ini. Yang puso atau kekeringan parah tidak bisa terselematkan itu kalo 50 hektar sudah ada karena tiap hari bertambah terus sudah tidak ada curah hujan,” katanya.
Menyikapi persoalan tersebut, dirinya lanjut dia telah menyurati pemerintah Kabupaten Bombana maupun Balai Wilayah Sungai IV Kendari. Namun belum ada tindak lanjut.
“Kita sudah bersurat sama Bupati di khususkan kepada BPBD terkait dampak kekeringan ini, kemudian kita juga berusaha ke BWS meminta bantuan sumur bor kapasitas yang lebih besar. Mudah-mudahan ini bisa terealisasi agar tahun-tahun berikutnya bisa terurai dampak kekeringan ini,” jelasnya.
Kondisi kekeringan ini menurutnya juga dirasakan oleh petani di Kecamatan Lantari Jaya. Untuk itu ia berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian khusus mengantisipasi dampak ini agar tidak terus berkelanjutan.
“Harapan masyarkat disini, pemerintah Kabupaten, Provinsi bahkan pusat jalur sungai Poleang itu bisa dibikin Bendungan. Karena cuma itu satu-satunya solusi, di Kecamatan Rarowatu Utara ini, tidak ada aliran air yang memadai cuma mengandalkan curah hujan,” tutupnya.
ODEK







